Hi there. I'm Alone.

Hi there. I'm Alone.
Hello, there. I'm Alone.

Find Words In My Blog.

Lonely Song.

Selasa, 22 November 2016

Semenjak Ada Cinta dalam Sastra Muslim

Dulu sekitar awal tahun 2000-an, waktu saya masih SD dan SMP, majalah dan novel, atau cerpen muslim yang bernapaskan nilai Islam seperti di majalah remaja muslimah Annida masih memikat untuk dicermati. Saya memang bukan perempuan, tapi ibu dan adik perempuan saya baca dan beli, jadi saya ikutan baca, deh. Bagi saya isinya menarik karena temanya beragam, belum memiliki arus utama, dan terkesan para penulis menemukan ide tulisan mereka secara partikular. Ada sih tema besar yang sering diambil, biasanya tentang penjajahan Israel kepada rakyat Palestina dengan beragam sudut pandang tapi muaranya sama: perjuangan dan pembebasan. Karya itu mengingatkan saya juga pada karya-karya sastra terkenal seperti Taufik Ismail, Helvi Tiana, Buya Hamka misalnya.

Tetapi pertanyaannya ialah, pada era apakah kita hidup saat ini?

Bagi saya pribadi yang awam, generasi sastra muslim kontemporer saat ini banyak dibentuk oleh tema cinta. Ledakan terbesar mungkin diawali oleh sastrawan Habiburrahman El-Shirazy dengan novel apiknya bertajuk cinta terutama “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”. Habiburrahman yang saya pribadi kagumi karena originalitasnya itu menjadi candu untuk menuturkan kisah cinta ideal pemuda-pemudi muslim. Kepopuleran ini, seperti halnya produk arsitektur minimalis dan arsitektur green, melahirkan banyak puluhan dan ribuan kopian gaya penulis ala Habiburrahman setelahnya. Dan boom! Buku-buku cerita seperti itu laku di pasaran Indonesia. Selain fenomena karya sastra bertema motivasi dan pribumi yang kuliah di luar negeri seperti Laskar Pelangi, karya sastra tentang cinta masih menduduki di peringkat atas penjualan novel di Indonesia. 

Dan semenjak itulah, cinta kembali menjadi tema besar untuk diangkat kembali di dalam pasar sastra muslim Indonesia setelah sekian lama. Bagi mereka yang percaya akan adanya semangat zaman, Inilah barangkali sebuah zaman yang menjadikan pemuda muslim sebagai sebuah generasi yang galaunya setengah mati dan tema perjuangan dilenturkan dalam bahasa yang lebih lembut. Setiap saya melihat seorang perempuan berjilbab yang suka membaca buku, meskipun saya tidak ingin mengungkapkan ini, tetapi stereotipe saya mengatakan bacaannya adalah seputar cinta, cinta dan cinta saja yang ia putar dalam pikirannya. Ini adalah konsekuensi yang tercermin dalam bacaan kesehariannya. 

Kemudian stereotipe ini berkembang seolah menjadi kenyataan dengan kehadiran tipe pemuda-pemudi ini (mungkin termasuk saya) yang memproduksi tulisan galau dalam beragam bentuk dengan segmen yang tetap saja pemuda-pemudi muslim. Mereka kemudian memenuhi layar media sosial kita seperti pada Tumblr, Instagram, Facebook, Twitter. Tulisannya biasanya ringkas dan sederhana tapi bermakna (eeaa), menandakan generasi kita butuh yang cepat-cepat saja untuk dapat menikmati sebuah tulisan. Ada yang mengereasikannya dengan lagu, kemudian juga dengan komik, gambar animasi, dan sebagainya, dengan satu tema besar: Cinta!

Meskipun yah, positifnya ialah cinta yang dimaksud tetap dalam koridor nilai-nilai Islam. Bayangkan, fenomena blog dengan akun pribadi menuliskan puisi-puisi dan tulisan perasaan amat personal mengisi kolom-kolom tulisannya, setiap hari. Media sosial adalah ajang terbaik untuk mempertemukan insan-insan ikhwan-akhwat yang galau. Itu menjadi alternatif karena dalam dunia nyata maupun maya, mereka tidak bisa berinteraksi secara langsung dan membatasi itu, jadinya ya hanya main kode-kodean saja sampai nanti ujungnya (ada yang “jadi”, ada yang tidak, tergantung pelaku dan kadar usahanya). 

Sejenak jika direnungkan memang tidak ada masalah berarti sih dalam karya-karya seperti itu. Jika kita cermati secara banal, dan jika kita mencoba untuk lebih sedikit peka, kita akan terbentur dengan soal kualitas karya seperti ini yang terlalu sering menemukan teks-teks yang seolah mirip-mirip. Misalnya seperti kata “maka”, “sejatinya”, “doa”, “rindu”, “menunggu”, “sabar”, “puisi”, “romantis”, “hati”. Frase dan kata-kata tersebut dengan mudahnya kita dapati telah didaur-ulang sedemikian rupa dan hop! Jadilah satu karya yang mega besar dan siap diedarkan di pasaran.

Meskipun tulisan yang ada itu tidak menjelaskan hal yang realistis, seringkali utopis dan membuai, tetapi siapa yang peduli? Tulisan itu toh berdaya tarik magis dan puitis sehingga membuat pembacanya (apalagi perempuan) begitu terlena. Sasarannya jelas: para pemuda-pemudi yang akan membeli karya sastra (buku-buku) tersebut dengan sukarela dan mengeluarkan uangnya demi sang penulis. Ya Allah, bahkan ada sebuah partai politik di Indonesia yang menggunakan kata “Cinta” sebagai salah satu jargonnya. Menyasar semangat kaum muda muslimkah? Saya tidak tahu.

Seorang penulis muslim yang sudah populer dan rajin menulis buku di akun media sosialnya mengungkapkan hasil surveinya sendiri bahwa di setiap diadakannya book fair ataupun ketika ia berkeliling di toko buku, yang banyak ia temukan adalah para pemudia berusia kisaran SMP-SMA yang berjilbab. Bagi seorang penulis yang mengerti bisnis, baginya itu adalah pasar yang bagus.

Teman baik saya Sutanrai Abdilah, S. Ars punya pandangan lain tentang hal ini dengan berpendapat bahwa mungkin hanya itulah pilihan aktivitas terbaik bagi para pemuda-pemudi muslimah dalam menuangkan perasaannya, mencari kesamaan-kesamaan apa yang ia rasakan di dalam karya sastra, dan persetujuan untuk mengerti yang ia rasakan. Itulah cara ia “melampiaskan” kegalauannya, di mana setiap orang yang galau dalam keadaan sadar atau tidak, selalu menikmati melankoli yang muncul di samping langsung meniadakannya. Daripada terjerumus ke dalam kemaksiatan, lebih baik kita memperbaiki diri dengan bergulat pada perasaan sendiri dengan dipersenjatai buku-buku sastra tersebut dalam rangka memahami hati.

Sejujurnya, saya berusaha mencari karya sastra muslim altenatif. Paman saya yang mendengar keluhan saya membela posisi semua karya sastra bahwa setiap karya itu punya pasar dan minatnya sendiri, jadi tidak perlu khawatir masalah kualitas. Atau barangkali karena kualitas seorang pembaca ditentukan oleh kualitas bukunya? Saya tidak tahu. Beliau ada benarnya juga.

Tulisan ini bukan sebuah esai analisis wacana dan kebudayaan yang bermetode baik dan berkaidah benar. Saya pastikan juga bahwa saya bukan orang yang sedang marah-marah, bahkan sebetulnya apa yang saya ungkapkan jauh dari kritik konstruktif (ngomong-ngomong saya juga bukan seorang mahasiswa sastra). Ini sekurang-kurangnya merangkum kegelisahan mengenai gejala yang tengah mewabahi karya-karya kebudayaan sastra orang Islam di Indonesia, dan uniknya kita sendiri menikmatinya. Lagipula, kalangan pemuda era reformasi seperti generasi saya ini bukan tipe pemuda yang mau mendengarkan orang lain, dan lebih senang mengatakan “lalu apa yang bisa kamu perbuat?”. Ya, beginilah jika kita hidup dalam gelombang produksi karya yang bermacam-macam, sehingga tidak ada waktu untuk berpikir kembali sejauh apa langkah yang telah ditempuh. Semoga kita bukan termasuk orang demikian.

Kebudayaan yang dituangkan di dalam tulisan mau tidak mau terikat dengan apa yang terjadi di masyarakat saat itu juga. Memang tidak ada masalah dalam hal ini, tetapi apakah itu berarti tidak ada kemajuan lagi bagi kita setelah persoalan cinta selesai? Apakah kita ingin melupakan permasalahan sosial yang melingkupi umat muslim saat ini dan tidak menjadikannya sebagai isu mayor? Entahlah, karena itu adalah pilihan masing-masing. Realisme yang hadir di keseharian seringkali tidak tertuang dalam karya sastra bertema cinta, dan itulah mungkin keresahan terbesar saya: mewaspadai diri untuk tidak hidup di dalam bayang-bayang imajinasi “cinta”.

Bagi orang yang telah menikah, cinta dan pernikahan adalah sebuah cerita besar yang tidak melulu tentang keindahan, malah lebih sering soal pertentangan dan kesedihan, yang di akhir melahirkan kebijaksanaan. Buah mewah ini tidak hadir dalam nuansa kebahagiaan dan kesenangan ala cinta semata. Ingat film Inside Out? Kita belajar bahwa arti hidup justru hadir ketika kita mampu meresapi kepayahan dan kesepian diri.

Baiklah, pada akhirnya juga saya harus malu terhadap diri sendiri, yang entah karena dorongan apa yang memotivasi saya menuliskan ini semua, jelaslah secara langsung menyimpulkan bahwa saya juga telah menjadi bagian di dalam arus wacana “cinta” ini, sehingga saya menjadi sama saja dengan yang lain. 

Semoga kita terus diberikan oleh Allah kesempatan untuk mampu memperbaiki diri dan mengembangkan sesuatu. (*)

Semoga Kita akan Bertemu


Apakah harapan masa depan selalu lebih baik daripada kenangan masa lalu?

Kalau kamu ingin mendapatkan jawaban yang cermat dan ilmiah dari pertanyaan di atas, sebaiknya kamu tanyalah itu kepada para sejarawan dan pemikir sosial, jangan kepadaku. Karena, aku menyebutnya kali ini tidak ingin di dalam konteks akademik yang serius banget, lebih tepatnya hanya untuk menggambarkan perasaanku pribadi saja, hehehe.

Kenapa sih sebagai perempuan aku harus merasakan kegundahan hati lebih banyak daripada laki-laki? Meskipun yah, aku tidak tahu saja betapa pintarnya kaum lelaki itu menutup-tutupi hatinya yang lemah dengan fisik atau kegagahan tampilannya. Aku percaya itu karena Allah juga bilang kalau semua manusia itu diciptakan sebagai makhluk lemah, bukan perempuan saja, lho ya. 

Sejak kecil aku selalu dididik untuk percaya bahwa Allah akan mempertemukan jodohku di tempat paling baik. Aku percaya nasihat itu, dan setiap aku selesai bersekolah senantiasa menyempatkan diri ke masjid. Bukan buat cari jodoh sih (karena dulu masih anak-anak dan tidak paham), tapi karena masjid, majlis ta’lim, atau lingkaran pengajian adalah tempat yang baik.

Tapi pas aku beranjak SMA dan kuliah, bukan tidak mungkin aku mendengarkan suara-suara mengaji yang merdu di seberang sana: apakah itu suaramu yang mengaji penuh merdu? Hehe, sebetulnya tidak patutlah aku jika sempat untuk berpikir demikian di rumah Allah. Ah, tetapi banyak juga tuh teman laki-lakiku yang kadang ku dengar suka bercanda di dalam masjid soal jodoh. Jadi, boleh dong, ya? Bolehin dong, hehehe. Maksa.

Ya Allah, sejujurnya ini masa yang amat sulit untukku kali ini. Oleh sebab aku terlalu fokus pada studi dan peningkatan ilmu duniawi-ukhrawiku, malah menjadi kesulitan bagiku sendiri yang seolah “ketinggalan” untuk barangkali mencari kesempatan fokus di perhelatan yang bagi manusia menjadi penting ini. Tetapi aku sadar, bahwa tidak mungkin aku menurunkan derajatku sendiri di mana Allah selalu melihatku di sini, tidak mungkin aku harus ‘turun kelas’ secara batin yang mana hanya aku yang tahu diriku sendiri.

Dari TK sampai SMP aku polos banget, deh. Di umur-umur itulah, aku doyan melahap berbagai buku-buku teenlit mulai dari prosa, cerpen dan novel yang sering membahas tentang perasaan dan cinta, hingga pengantar jodoh (masya Allah, betapa malunya aku kalau mengingat ini), seolah menjadi perwakilan hatiku, dan karena yang ada dan tersedia buatku hanyalah itu semua, serta lagipula aku juga suka.

Suatu kali seorang guru bahasa Indonesia saat aku kelas 3 SMP (kira-kira tahun 2006) pernah bertanya kepada murid-murid, yang mana aku juga hadir di situ:

"Apakah sebenarnya hakikat cinta?"

Wah, langsung deh suasana kelas menjadi riuh-rendah. Anak-anak lelaki yang paling terlihat senang, ketawa dan saling mengejek, tunjuk-tunjukan, atau berpura-pura bersikap ramai yang sebetulnya hanyalah dalih untuk keinginannya mencuri pandang siswi yang mereka taksir saat itu juga, seolah mereka jadi teringat. Sedangkan teman-teman perempuan lebih malu dan menyembunyikan dengan senyuman mungil dan geli sendiri, dan saling meledek kepada teman sebangkunya. Beberapa anak menjawab begitu puitis, mungkin mereka mengutip dari film-film sinetron RCTI/SCTV yang tayang tiap malam itu.

Tapi ada satu jawaban dari seorang siswa laki-laki, yang aku tidak begitu mengenalinya. Sambil ia memegang sebuah buku karya Oleh Solihin, “Jangan Nodai Cinta”, ia beranjak berdiri dari kursinya, dan bilang seperti ini:

“Hakikat cinta sebenarnya diciptakan untuk naluri manusia demi melanjutkan keturunannya.”

Jawaban apa itu? Aku belum terlalu paham. Tapi yang paling membuatku bingung adalah hal setelah itu: aku menjadi sangat deg-degan dan gugup kalau bertemu dengannya selama di sekolah. Mungkin, aku sempat jatuh cinta padanya. Aku setuju dengannya suatu saat setelah merenungi perkataannya, bahwa karena cintalah peradaban manusia itu akan selalu ada. Jadi, aku tidak mungkin menolak kehadiran nafsu, tetapi bagaimana aku mengaturnya itu. 

Tetapi, jujur saja ya Allah, itu terasa sangat sulit. Tidak mungkin aku bisa mengikuti jejak beberapa temanku yang sangat hebatnya mereka itu sampai-sampai bisa menolak apa yang ada sebagai nafsu fitrahnya itu. Banyak buku cinta yang bilang, tahanlah rasa galau itu hingga saatnya, tapi.... itu ‘kan teorinya! Huh, aku kesal karena si penulis terlalu menggampangkan soal “jarak” dan “rindu”, apa mereka sebetulnya tidak pernah jatuh cinta dan hidup di langit bersama malaikat, ya? Sedangkan aku hanya seorang perempuan biasa. Da aku mah apa atuh, kalau kata seorang temanku asal Sukabumi.

Jawaban para penulis itu atau orang yang cenderung menyederhanakan cinta itu lama-lama buatku terlalu skeptis dan seolah-olah tidak ada puisi di dalam merasakan cinta. Apakah kita hidup hanya untuk berkembang biak? Apakah Allah hanya memberikan rasa saling kasih sayang antarlawan jenis untuk perbuatan yang semata-mata fungsional? Itu namanya penghinaan bagiku. Dari situ aku juga jadi kurang suka adanya laki-laki (bahkan ada juga teman perempuanku) yang hidupnya kaku sekali di dunia ini. 

Mungkin aku bisa saja salah, tapi inilah sikapku. Maka benarlah, cinta juga hadir supaya manusia bisa menjadi peka, kemudian menciptakan banyak kata dan bahasa yang menjelma sebagai puisi, sehingga membuatku dapat merasakan kegundahan dan kegelisahan yang entah kenapa aku malah menikmatinya. Terserahlah bagaimana orang lain menanggapi itu, aku tidak peduli.

Karena pengalaman yang sebegitu pahitnya dan kekecewaan yang termasuk dalam bagi kapasitas hatiku saat itu, kepolosanku akhirnya terkoyak, dan aku mengira apa yang selama ini terbangun dalam pikiranku tentang jodoh yang ideal menjadi sangat konyol. Aku jadi hambar kalau orang bicara cinta dalam sementara waktu. Itu juga waktu sulit yang tidak aku senangi sebetulnya.

Saat ini, aku menjelang masuk umur ke-25, di masa yang katanya “kritis” bagi sebagian besar perempuan lajang di Indonesia, di tengah godaan temank-teman dekatku yang sudah menikah, dan juga ketidakpedulianku terhadap siapapun yang kelak akan datang ke rumahku atau mengirimkan pesan demi melamarku, dengan perenungan yang begitu dalam,aku tetap berdoa sebagai berkat ikhtiarku di tiap malam.

Tetapi ya Allah, biarkanlah aku bertanya sekali lagi padaMu: benarkah masa depan itu memang lebih baik daripada kenangan masa lalu yang indah? Kenapa kita tidak bisa membangkitkan masa indah itu lagi, jangan-jangan masa depan tidak sesempurna yang kita bayangkan dan lebih baik dari sebelumnya? Ya Allah, aku memang egois banget untuk menghadirkan (entah dengan siapa dan jika itu ada) orang-orang yang pernah bersikap baik padaku dan lebih jelas telah aku kenali dulu-dulu. 

Jika saat berjalan ke depan tidak kutemui yang sebaik masa lalu dan pernah ku alami perasaan cinta dan menggebu-gebunya, maka kalau ada Ya Allah, aku mau minta satu. Dan jangan-jangan memanglah pertanyaanku di judul tulisan ini sejak awal harus ku ganti: semoga kita berdua pernah bertemu sebelumnya. Aamiin!

***


Short Contemplation on Post-reform Student Movement


Generasi Mahasiswa Saat Ini di Mata Saya

Oleh sebab tuntutan kegiatan hingga larut malam, sejak menjadi mahasiswa UI saya terbiasa berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan-jalan gelap kampus dan hutannya sambil merenungi apa saja. Kebiasaan ini hilang setelah lulus dari kuliah S1. Teman-teman pun satu per satu telah meninggalkan kampus. Beberapa waktu lalu saya berjalan kaki lagi dan bayangan mereka terpantul-pantul seakan saya harus mengenang romantisme pergerakan dan organisasi bersama mereka.

Saya pikir semua orang akan setuju jika saya katakan belakangan ini, model pergerakan mahasiswa telah berubah. Yang paling mudah dilihat ialah dari tren aktivitas demonstrasi, baik secara personal maupun struktural yang mengalami penurunan. Sebutan “demonstrasi” juga kini lebih dikenal sebagai “aksi”, karena kata “demonstrasi” dirasa terlalu keras dan vandalis. Minat terhadap organisasi, katakanlah BEM UI, sepi dalam 3 tahun terakhir. Kalaupun masih ada yang bergerak masif dan bersemangat, lebih banyak dari mereka yang berasal dari kelompok sejenis yang satu tujuan/visi politik spesifik. Sebuah konstribusi (katakanlah demikian), saat ini dituangkan kepada asas profesionalisme tanpa terikat struktur keorganisasian mahasiswa tertentu, sebagai ciri khas bangkitnya “kemapanan” pada tiap diri generasi muda Indonesia setidaknya di kampus saya.

Lantas, tahun-tahun itu mereka isi dengan variasi wadah kegiatan di beragam minat dan keilmuan. Contoh yang paling mudah ditemukan ialah turun aktif dalam urusan program kemanusiaan dan sosial; salah satu tren kalangan mereka demi meluapkan energi dan pikiran ideal atas kehidupan yang lebih baik. Ada juga yang “berkontribusi” dengan berbasis pada komunitas, agama, bisnis waralaba berbadan hukum, hingga lembaga swadaya masyarakat. Seorang Rektor UI Muhammad Anis berpendapat bahwa gerakan mahasiswa saat ini dianggap telah “bertransformasi” mengikuti modernisasi zamannya. 

Generasi ini bukanlah mereka yang benar-benar memahami secara teoretis definisi tertulis agent of change, sebab definisi yang dimaksudkan para pendahulu di era kebangkitan masa awal dahulu telah blur batas-batasnya. Keyakinan mereka untuk bergerak sebagai entitas kesatuan lebih direnungi oleh masing-masing individu semata. Dengan demikian, istilah “idealisme” yang kerap dicantumkan tengah menggeliat sedemikian lenturnya. Selain diakibatkan oleh proses memapankan diri komposisi kelas menengah ke atas yang makin banyak, hal ini juga bisa jadi dipengaruhi oleh tingkat ekonomi keluarga dan kesadaran untuk mempertimbangkan nilai-nilai ekonomis dan bisnis (‘untung-rugi’) dalam bergerak.

Mereka perlu memikirkan pergerakan yang efisien dalam ketersediaan waktu yang relatif lebih menyempit, yaitu standar masa kuliah 4 tahun yang jadi keniscayaan. Tentu saja hal ini ujung-ujungnya menyangkut pada tuntutan pasar kerja nasional dan internasional terhadap mereka selaku SDM bangsa. Di samping pertimbangan profesi, prospek akademik formal semacam peluang beasiswa luar dan dalam negeri makin terbuka lebar dengan keterbukaan jaringan global.

Anak-anak muda ini tidak bisa dilepaskan dari terbukanya media sosial sebagai ruang publik, dan terbukanya jejaring informasi seluas-luasnya untuk mengakses berbagai wadah secara mandiri. Kita pun tengah menyongsong kelahiran sebuah zaman yang akan dipenuhi oleh mereka yang dinamakan sebagai “Generasi Z”; generasi yang di dalam dadanya penuh dengan kebanggaan diri, mengutamakan kerja dan karya individual sebagai kreasi, dan kemandirian memelajari sesuatu. Tiada lain mereka merupakan generasi “talk less, do more”. Jarak antara mahasiswa dan pemilik kekuasaan lama-lama mengalami perluasan.


On Role and Morale

Mimpi bersama masyarakat Teknik UI antara lain singkatnya mencetak para alumni teknokrat yang negarawan. Mereka yang ikhlas membela negara dalam porsi dan cara positifnya masing-masing. Nilai seperti ini ditanamkan sejak menjadi seorang prasarjana. Kadar “perubahan” yang bisa dilakukan oleh mahasiswa bersama-sama kini disalurkan dengan terjun langsung membantu masyarakat secara tindak nyata. Kadangkala mereka, baik mahasiswa maupun masyarakat umum lebih butuh suara-suara yang disederhanakan dan mudah dimengerti dibanding konsep-konsep yang terlampau tinggi. Sesekali aksi masih ada, atau kalau tidak berbentuk saran, rekomendasi dan bukan dalam wujud kritik lagi, sebab semua orang saat ini bisa mengkritisi sesuatu secara bebas di media sosial.

Meskipun demikian, kekurangan itu pasti selalu ada. Yang namanya mahasiswa lagipula suka melakukan rasionalisasi terhadap eksperimen yang mereka lakukan demi membenarkan premis yang menurut mereka “ideal”. Sebagaimana di tiap tahunnya, budaya orientasi mahasiswa masih saja –dan entah sampai kapan— diberlakukan oleh para senior terhormat. Cara-cara lama yang membedakan antara mahasiswa aktif dan mahasiswa muda sebagai motivasi untuk menjadi aktif terlibat masih diberlakukan. Masih kita saksikan juga dan patut disesali banyak adegan "teriak-teriak" sepanjang orientasi hingga sekarang. Mahasiswa baru semestinya bukan kumpulan 'paduan suara'. Idealisme harus dibangun, tapi bukan untuk gaya-gayaan yang nihil. Tujuan kaderisasi mahasiswa baru untuk berperan aktif di kampus lantas dinodai oleh segelintir oknum “preman” kecil.

Dan juga sebagaimana halnya saringan masuk, ada lubang-lubang yang lebih longgar; mungkin juga ada mahasiswa yang lebih suka senang dan asyik sendiri. Kalau ditanya soal tanggung jawab, mereka menjawab, “ya hidup terserah gua, mau nikmatin bukan urusan lu”. Jarak tiap perbedaan antarmereka kadang begitu cair, kadang juga begitu sentimen. Ini juga dampak lain keterlepasan dari struktur kesatuan mahasiswa. Di samping itu, terdapat mahasiswa dari berbagai daerah yang serius mengemban mimpinya namun direpotkan kekurangan-kekurangan seperti biaya kuliah, faktor ongkos dan kesulitan finansial. Menurut saya, peran alumni yang saya sebutkan di awal ikut prihatin dengan gejala ini dan mengambil langkah mengasuh adik-adik mahasiswanya, salah satunya dengan membentuk lembaga alumni pemberi beasiswa, misalnya. Kepedulian alumni yang merupakan mantan aktivis patut diperhitungkan, sebab pada umumnya mereka jugalah yang mengisi pos-pos pergerakan di tingkat organisasi masyarakat/civitas kecil seperti ikatan alumni, ormas, lembaga swadaya atau bahkan partai politik.

Penutup

Dari pemaparan di atas, apakah model pergerakan mahasiswa benar-benar telah ajeg dalam status quo? Atau jangan-jangan kita telah lama menahan bom waktu yang terlambat kita sadari? Atau, haruskah kita menunggu “ledakan” untuk menyambut sebuah perubahan? Di era serba jungkir dan penuh pembongkaran ide dan nilai pada lingkung bangun fisik dan sosialnya, generasi ‘tidak percaya’ ini toh tetap perlu belajar kepada sejarah kejayaannya masa lalu. Saya tetap meyakini bahwa Indonesia di masa depan punya posisi signifikan di dunia dalam arti seluas-luasnya. Saya pun meyakini bahwa pergerakan mahasiswa masih sama berpengaruhnya terhadap roda gigi zaman, tinggal inisiatif mereka sendiri apakah mau bersatu padu, lebih peduli dan tidak asyik sendiri, dan juga tidak saling bermusuhan satu sama lain.

Akhirnya kita terpaksa tumbuh menjadi dewasa, karena fitrahnya seluruh makhluk bumi didorong oleh waktu. Sederhananya, karena adanya waktu, kita dipaksa berpindah tempat, dipaksa berpikir, dipaksa melakukan, dipaksa menuliskan, atau menerka yang tersingkap di waktu setelah kita. Kita bergerak karena waktu, diberi jatah tenaga dan ruang oleh Allah melalui aparatus “waktu”. Termotivasi membangun pikiran maju dan senantiasa mendewasakan diri. Menenggelamkan jasad dan ruh ke lautan fenomena, bukit-bukit kemajuan dan visioner dunia. Terima kasih telah menjadi puing-puing rekaman zaman yang melengkapi satu sama lain, hai manusia-mahasiswa sekalian. Pantulan kenangan pergerakan mahasiswa telah selesai, saya harus kembali bekerja untuk diri sendiri.


Departemen Arsitektur Kampus UI Depok,
9 Oktober 2016, 19:30 ditemani rintik hujan

Kamis, 28 April 2016

Dependensi Status Arsitek terhadap Peranti Desain Parametrik

Abstrak

Dalam menggunakan bacaan Kenneth Frampton sebagai alat bedah untuk membaca ide Patrik Schumacher mengenai Parametricism, saya membahas relasi-relasi yang terjadi dalam proses produksi antara arsitek, karya desainnya dan juga peranti lunak sebagai ‘medium’-nya. Tesis yang saya sampaikan terutama ialah bahwa dengan hadirnya peranti sebagai perangkat desain, arsitek sebagai subyek pembuat karya semakin tereduksi peran dan statusnya, disertai kebergantungannya terhadap di saat proses mendesain parametrik, dan menjauhkan “jarak”-nya dengan karyanya.


Sebagai awalan, saya menjelaskan sedikit ulasan mengenai “status manusia” dan “status obyek” dati tulisan Kenneth Frampton yang menarik untuk disimak. Frampton meminjam terminologi dari Hannah Arendt, yaitu “kondisi manusia” (human condition) memiliki dualitas yang selalu terpaut terutama sifat dan motif manusia dalam berkarya dan bergerak, yaitu antara labor dan work. Dalam bahasa Indonesia, kedua kata tersebut bisa diterjemahkan sebagai kata kerja. Di dalam etimologi bahasa Inggris, keduanya berangkat dari suatu alasan yang berbeda setidaknya menurut Hannah Arendt.

Melihat secara teoretis terhadap sistem penggunaannya, kata labor dimaknai untuk menandai suatu kerja yang bersifat proses, privat dan impermanen, sedangkan kata work meliputi kebalikannya yang statis, publik dan bersifat permanen (Frampton, 1979). Labor secara konkret singkatnya bisa digunakan pada penggunaan istilah kerja yang bersifat ‘kasar’ yang bagian kerjanya biasanya dikategorikan dalam proses-proses terpisah bagian per bagian (privat), seperti yang umumnya ditemukan di pabrik atau industri.

Work juga bisa diartikan sebaliknya, yaitu “kerja” yang tidak bersifat sekadar proses semata, akan tetapi justru manusianya mengerti keseluruhan karya apa yang ia produksi sehingga manusia tersebut mengerti betul apa yang ia kerjakan. Dalam pandangan lain juga disebutkan bahwa labor dan work bisa diukur dari tingkat “minat” atau keterpaksaannya seseorang untuk melakukan pekerjaannya. Minat yang dimaksud ini diidentikkan dengan antusiasme manusia yang menuangkan pemikirannya secara menyeluruh terhadap pekerjaannya.  

Tesis utama yang tertuang dalam tulisannya ialah manusia dikatakan telah terjauhkan jaraknya antara dirinya dengan produk yang ia buat atau ciptakan. Hal itu, menurut Frampton salah satunya yang utama disebabkan oleh kehadiran modernisme (Revolusi Industri) dalam kehidupan berproduksi. Diawali dari kemudahan akan memproduksi barang secara masal oleh mesin-mesin dan teknologi, alat-alat dari hasil modernisme ini akhirnya turut andil besar dalam membentuk suatu kualitas karya. Tendensi dari produksi masal dan proses industri juga memicu minat konsumsi masal yang seringkali barang tersebut tidak begitu esensial bagi manusia pengguna.

Tesis-tesis Frampton ini saya jadikan sebagai alat bedah untuk membahas gagasan Patrik Schumacher. Di lain sisi melompat ke gagasan utama tulisannya, yaitu Parametrikisme, ketika melakukan pembacaan terhadap pemikiran Schumacher, bagi saya para pembaca juga harus curiga atau skeptis terhadap teks-teks terlebih dahulu. Tradisi pos-strukturalis seperti ini lebih menekankan pada apa yang berada di balik si subyek penulis teks dibanding membahas teks itu sendiri, terutama dengan menggunakan kacamata Frampton alias kacamata Arendt, berarti saya harus pertama-tama mengkaji relasi-relasi yang terbentuk dan yang dibahas oleh tulisan Patrik Schumacher sedari awal karya tulisannya hingga yang terakhir (tahun 2016), terutama menelurkan ide mengenai desain, konsep, karya, gaya atau bahkan manifesto Parametrikisme atau Parametricism.

Di dalam desain parametrik, relasi yang dapat saya temukan antara lain subyek pendesain berupa arsitek, obyek karyanya yang berupa desain dan model serta juga sebuah ‘medium’ untuk memperantarainya. Medium yang dimaksud ialah komputer yang secara jelas ia sebutkan secara definitif pada permulaan paragraf penjelasan Parametrikisme.

Terkait dengan tulisan yang ingin disampaikan oleh Frampton ialah mengutip pendapat Arendt, Frampton juga menuliskan bahwa era modern tersebut telah membuat “jarak” antara arsitek dan karya desainnya.  Jarak yang dimaksud bisa jadi berupa “batasan-batasan” yang tersedia pada fasilitas atau tools di setiap peranti lunak yang digunakan selama pembuatan desain parametrik.

Alhasil, kita selalu dituntut untuk menggunakan tombol-tombol rigid dan terpilih seperti line, rotate, extrude, curve, mirror dan lain sebagainya. Sekilas memang alat tombol ini jelas membantu, tetapi pada akhirnya yang saya pertanyakan adalah: jika setiap alat telah memiliki kategori-kategori sendiri dalam pengerjaanya, bukankah alat tersebut semakin mencapai sifat otonominya dalam proses produksi karya?

Dengan kata lain, setiap tindakan arsitek yang memproduksi desain melalui peranti lunak ini pengerjaannya telah terwakili oleh tombol-tombol kerja, maka dari itulah alasan status mereka sebagai arsitek dalam relasi ini disebut sebagai pengguna (user) peranti, bukan pembuat karya (creator). Jika ini terus dikritisi lebih lanjut, akan ada suatu kondisi yang juga dalam konteks tulisannya juga disebut oleh Frampton, di mana alat telah berhasil membuat dirinya sendiri memiliki sifat otonominya sendiri (autonomous), teroptimasi penggunaannya (optimized), sekaligus juga ironisnya teralienasi (alienated) dari realitas fisik.

Sebetulnya, muara dari tulisan Frampton mengarah pada pertimbangan-pertimbangan regional di setiap mendesain arsitektur selain hanya pada pertimbangan produksi masal semata. Frampton mengkritisi arsitektur modern yang baginya meniadakan work sebagai sifat alamiah manusia, dan bukan sifat manusia yang lain atau yang disebutnya sebagai homo faber (pembuat alat dan instrumen) melihat alam dan kerjanya. Desain parametrik dapat saya katakan merupakan salah satu dari produk akhir (setidaknya hingga saat ini) perjalanan dari arsitektur modern, bahkan menandai kebangkitannya di mana kemunculan alat berupa peranti (kali ini bersifat lunak) lagi-lagi menguasai produksi, seolah-olah modernisme arsitektur mengalami kebangkitannya lagi di era abad ke-21 ini. Ciri khas yang umum terlihat pada karya modernis adalah ketiadaan aspek culture atau kebijakan dan kebijaksaan regionalistik suatu daerah dan konteks. Dalam desain komputer, aspek kebudayaan seringkali tidak tertuang, karena mudah saja argumentasinya: pencerapan komputer terhadap "kebudayaan" jelas tidak sama dengan manusia.

Setelah saya menjabarkan kondisi di atas tersebut, kembali pada topik desain parametrik, bisakah saya katakan bahwa desain tersebut dihasilkan sebagian besar berkat usaha dari perangkat peranti dan bukan karya manusia seutuhnya? Lalu jika demikian benar adanya, bagaimana halnya dengan medium peranti keras (hardware) konvensional berupa alat gambar seperti pensil atau kertas yang telah digunakan jauh sebelumnya? Bukankah alat-alat ini juga setidaknya mereduksi ide dan pemikiran manusia terhadap karyanya?

Inilah yang barangkali disebutkan oleh Arendt dan Frampton sebagai alienasi karya, medium dan subyek manusia sebagai akibat dari pemisahan-pemisahan otonomi antarrelasi di setiap pengerjaan desain. Alat semakin lama semakin memperjarak manusia sebagai subyek pembuat dari karyanya, alih-alih dari menggunakan demi mencapai efisiensi waktu dan kemudahan visualisasi desain.

Bahkan, secara ironis dapat juga saya katakan bahwa gaya dan metode desain Parametrik sebetulnya telah lahir dari visualisasi dan kemampuan untuk menunjukkan gradiensi dan bentuk-bentuk kurvatur dari sebuah perangkat peranti keras komputer dan peranti lunak berupa AutoCAD, Rhyno atau SketchUp itu sendiri, bukan dari ide dari subyek pemikiran manusia sebelumnya, yang itu baru ditemukan gagasan dan diperkuat konsepnya seperti adanya semiologi parametrik, parameter sosial, dan lain sebagainya yang baru disusun belakangan hari oleh Patrik Schumacher. Jadi, jika boleh secara jujur kita merefleksikan terhadap penulisan dan gagasannya, siapa yang menciptakan ide desain tersebut? ***


DAFTAR PUSTAKA

Schumacher, P., 2014, ‘Design Parameters to Parametric Design’ in M. Kanaani & D. Kopec (eds.)., The Routledge companion for architecture design and practice: Established and emerging trends. New York: Routledge, Taylor and Francis, viewed April 23 2016 from http://www.patrikschumacher.com/Texts/Design%20Parameters%20to%20Parametric%20Design.html


Frampton, K., 1979 , ‘The Status of Man and the Status of His Objects: A Reading of The Human Condition’ in K. Michael Hays (ed.)., Architecture theory since 1968. New York: A Columbia Book of Architecture.