Hi there. I'm Alone.

Hi there. I'm Alone.
Hello, there. I'm Alone.

Find Words In My Blog.

Lonely Song.

Selasa, 22 November 2016

Semenjak Ada Cinta dalam Sastra Muslim

Dulu sekitar awal tahun 2000-an, waktu saya masih SD dan SMP, majalah dan novel, atau cerpen muslim yang bernapaskan nilai Islam seperti di majalah remaja muslimah Annida masih memikat untuk dicermati. Saya memang bukan perempuan, tapi ibu dan adik perempuan saya baca dan beli, jadi saya ikutan baca, deh. Bagi saya isinya menarik karena temanya beragam, belum memiliki arus utama, dan terkesan para penulis menemukan ide tulisan mereka secara partikular. Ada sih tema besar yang sering diambil, biasanya tentang penjajahan Israel kepada rakyat Palestina dengan beragam sudut pandang tapi muaranya sama: perjuangan dan pembebasan. Karya itu mengingatkan saya juga pada karya-karya sastra terkenal seperti Taufik Ismail, Helvi Tiana, Buya Hamka misalnya.

Tetapi pertanyaannya ialah, pada era apakah kita hidup saat ini?

Bagi saya pribadi yang awam, generasi sastra muslim kontemporer saat ini banyak dibentuk oleh tema cinta. Ledakan terbesar mungkin diawali oleh sastrawan Habiburrahman El-Shirazy dengan novel apiknya bertajuk cinta terutama “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”. Habiburrahman yang saya pribadi kagumi karena originalitasnya itu menjadi candu untuk menuturkan kisah cinta ideal pemuda-pemudi muslim. Kepopuleran ini, seperti halnya produk arsitektur minimalis dan arsitektur green, melahirkan banyak puluhan dan ribuan kopian gaya penulis ala Habiburrahman setelahnya. Dan boom! Buku-buku cerita seperti itu laku di pasaran Indonesia. Selain fenomena karya sastra bertema motivasi dan pribumi yang kuliah di luar negeri seperti Laskar Pelangi, karya sastra tentang cinta masih menduduki di peringkat atas penjualan novel di Indonesia. 

Dan semenjak itulah, cinta kembali menjadi tema besar untuk diangkat kembali di dalam pasar sastra muslim Indonesia setelah sekian lama. Bagi mereka yang percaya akan adanya semangat zaman, Inilah barangkali sebuah zaman yang menjadikan pemuda muslim sebagai sebuah generasi yang galaunya setengah mati dan tema perjuangan dilenturkan dalam bahasa yang lebih lembut. Setiap saya melihat seorang perempuan berjilbab yang suka membaca buku, meskipun saya tidak ingin mengungkapkan ini, tetapi stereotipe saya mengatakan bacaannya adalah seputar cinta, cinta dan cinta saja yang ia putar dalam pikirannya. Ini adalah konsekuensi yang tercermin dalam bacaan kesehariannya. 

Kemudian stereotipe ini berkembang seolah menjadi kenyataan dengan kehadiran tipe pemuda-pemudi ini (mungkin termasuk saya) yang memproduksi tulisan galau dalam beragam bentuk dengan segmen yang tetap saja pemuda-pemudi muslim. Mereka kemudian memenuhi layar media sosial kita seperti pada Tumblr, Instagram, Facebook, Twitter. Tulisannya biasanya ringkas dan sederhana tapi bermakna (eeaa), menandakan generasi kita butuh yang cepat-cepat saja untuk dapat menikmati sebuah tulisan. Ada yang mengereasikannya dengan lagu, kemudian juga dengan komik, gambar animasi, dan sebagainya, dengan satu tema besar: Cinta!

Meskipun yah, positifnya ialah cinta yang dimaksud tetap dalam koridor nilai-nilai Islam. Bayangkan, fenomena blog dengan akun pribadi menuliskan puisi-puisi dan tulisan perasaan amat personal mengisi kolom-kolom tulisannya, setiap hari. Media sosial adalah ajang terbaik untuk mempertemukan insan-insan ikhwan-akhwat yang galau. Itu menjadi alternatif karena dalam dunia nyata maupun maya, mereka tidak bisa berinteraksi secara langsung dan membatasi itu, jadinya ya hanya main kode-kodean saja sampai nanti ujungnya (ada yang “jadi”, ada yang tidak, tergantung pelaku dan kadar usahanya). 

Sejenak jika direnungkan memang tidak ada masalah berarti sih dalam karya-karya seperti itu. Jika kita cermati secara banal, dan jika kita mencoba untuk lebih sedikit peka, kita akan terbentur dengan soal kualitas karya seperti ini yang terlalu sering menemukan teks-teks yang seolah mirip-mirip. Misalnya seperti kata “maka”, “sejatinya”, “doa”, “rindu”, “menunggu”, “sabar”, “puisi”, “romantis”, “hati”. Frase dan kata-kata tersebut dengan mudahnya kita dapati telah didaur-ulang sedemikian rupa dan hop! Jadilah satu karya yang mega besar dan siap diedarkan di pasaran.

Meskipun tulisan yang ada itu tidak menjelaskan hal yang realistis, seringkali utopis dan membuai, tetapi siapa yang peduli? Tulisan itu toh berdaya tarik magis dan puitis sehingga membuat pembacanya (apalagi perempuan) begitu terlena. Sasarannya jelas: para pemuda-pemudi yang akan membeli karya sastra (buku-buku) tersebut dengan sukarela dan mengeluarkan uangnya demi sang penulis. Ya Allah, bahkan ada sebuah partai politik di Indonesia yang menggunakan kata “Cinta” sebagai salah satu jargonnya. Menyasar semangat kaum muda muslimkah? Saya tidak tahu.

Seorang penulis muslim yang sudah populer dan rajin menulis buku di akun media sosialnya mengungkapkan hasil surveinya sendiri bahwa di setiap diadakannya book fair ataupun ketika ia berkeliling di toko buku, yang banyak ia temukan adalah para pemudia berusia kisaran SMP-SMA yang berjilbab. Bagi seorang penulis yang mengerti bisnis, baginya itu adalah pasar yang bagus.

Teman baik saya Sutanrai Abdilah, S. Ars punya pandangan lain tentang hal ini dengan berpendapat bahwa mungkin hanya itulah pilihan aktivitas terbaik bagi para pemuda-pemudi muslimah dalam menuangkan perasaannya, mencari kesamaan-kesamaan apa yang ia rasakan di dalam karya sastra, dan persetujuan untuk mengerti yang ia rasakan. Itulah cara ia “melampiaskan” kegalauannya, di mana setiap orang yang galau dalam keadaan sadar atau tidak, selalu menikmati melankoli yang muncul di samping langsung meniadakannya. Daripada terjerumus ke dalam kemaksiatan, lebih baik kita memperbaiki diri dengan bergulat pada perasaan sendiri dengan dipersenjatai buku-buku sastra tersebut dalam rangka memahami hati.

Sejujurnya, saya berusaha mencari karya sastra muslim altenatif. Paman saya yang mendengar keluhan saya membela posisi semua karya sastra bahwa setiap karya itu punya pasar dan minatnya sendiri, jadi tidak perlu khawatir masalah kualitas. Atau barangkali karena kualitas seorang pembaca ditentukan oleh kualitas bukunya? Saya tidak tahu. Beliau ada benarnya juga.

Tulisan ini bukan sebuah esai analisis wacana dan kebudayaan yang bermetode baik dan berkaidah benar. Saya pastikan juga bahwa saya bukan orang yang sedang marah-marah, bahkan sebetulnya apa yang saya ungkapkan jauh dari kritik konstruktif (ngomong-ngomong saya juga bukan seorang mahasiswa sastra). Ini sekurang-kurangnya merangkum kegelisahan mengenai gejala yang tengah mewabahi karya-karya kebudayaan sastra orang Islam di Indonesia, dan uniknya kita sendiri menikmatinya. Lagipula, kalangan pemuda era reformasi seperti generasi saya ini bukan tipe pemuda yang mau mendengarkan orang lain, dan lebih senang mengatakan “lalu apa yang bisa kamu perbuat?”. Ya, beginilah jika kita hidup dalam gelombang produksi karya yang bermacam-macam, sehingga tidak ada waktu untuk berpikir kembali sejauh apa langkah yang telah ditempuh. Semoga kita bukan termasuk orang demikian.

Kebudayaan yang dituangkan di dalam tulisan mau tidak mau terikat dengan apa yang terjadi di masyarakat saat itu juga. Memang tidak ada masalah dalam hal ini, tetapi apakah itu berarti tidak ada kemajuan lagi bagi kita setelah persoalan cinta selesai? Apakah kita ingin melupakan permasalahan sosial yang melingkupi umat muslim saat ini dan tidak menjadikannya sebagai isu mayor? Entahlah, karena itu adalah pilihan masing-masing. Realisme yang hadir di keseharian seringkali tidak tertuang dalam karya sastra bertema cinta, dan itulah mungkin keresahan terbesar saya: mewaspadai diri untuk tidak hidup di dalam bayang-bayang imajinasi “cinta”.

Bagi orang yang telah menikah, cinta dan pernikahan adalah sebuah cerita besar yang tidak melulu tentang keindahan, malah lebih sering soal pertentangan dan kesedihan, yang di akhir melahirkan kebijaksanaan. Buah mewah ini tidak hadir dalam nuansa kebahagiaan dan kesenangan ala cinta semata. Ingat film Inside Out? Kita belajar bahwa arti hidup justru hadir ketika kita mampu meresapi kepayahan dan kesepian diri.

Baiklah, pada akhirnya juga saya harus malu terhadap diri sendiri, yang entah karena dorongan apa yang memotivasi saya menuliskan ini semua, jelaslah secara langsung menyimpulkan bahwa saya juga telah menjadi bagian di dalam arus wacana “cinta” ini, sehingga saya menjadi sama saja dengan yang lain. 

Semoga kita terus diberikan oleh Allah kesempatan untuk mampu memperbaiki diri dan mengembangkan sesuatu. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar